Menu

Tampilkan postingan dengan label Bab 1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bab 1. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 September 2010

BAB 3 PENGGUNAAN KOMPUTER DI BIDANG PERBANKAN



Tujuan umum

Membekali mahasiswa dengan pengetahuan dan ketrampilan di bidang penggunaan komputer di bidang bank.


Tujuan khusus

Memerkenalkan mahasiswa pada aspek teknis dan non teknis pada pengguanaan komputer di bidang perbankan


Lingkup bahasan

Sistem aplikasi perbankan, Dokumentasi dan sistem penyimpanan data, Keluwesan(flexibility), Sistem keamanan(security System), Kemudahan Pengoperasisan(User Friendly), Sistem Pelaporan(Reporting), aspek pemeliharaan(maintenance), source code

Perkembangan Perbankan Indonesia

Industri perbankan di Indonesia merupakan salah satu sektor perekonomian yang mengalami perkembangan relatif paling dinamis dibandingkan sektor ekonomi yang lain, terutama setelah paket deregulasi Oktober 1988 dengan sasaran antara lain mengarahkan dana masyarakat dan meningkatkan efisiensi di bidang perbankan dan lembaga keuangan. Fungsi lembaga perbankan itu sendiri adalah sebagai lembaga perantara keuangan (financial intermidiary) yang menyalurkan dana masyarakat dan menginventasikan kembali dana tersebut untuk mendukung perkembangan ekonomi nasional.

Sebagai lembaga keuangan yang sebagian besar dananya berasal dan surplus unit, Bank dituntut untuk mengelola dana tersebut .secara profesional dan terpercaya (Bank sebagai Agent of trusth). Penyaluran kembali dana yang diberikan ke defisit unit diharapkan bisa meningkatkan nilai tambah dalarn bentuk yang produktif dan mendukung pengembangan sektor Riil (Bank sebagai Agent of Development) dengan tetap berdasarkan prinsip kehati-hatian (prudential banking). Meskipun Bank adalah lembaga yang mencari keuntungan (profit oriented), Bank diharapkan dapat mcndistribusikan dananya secara merata untuk setiap individu ataupun strata pelaku ekonomi dengan harapan dapat mewujudkan peningkatan ekonomi nasional yang merata dan adil (Bank sebagai Agent Of Equity).

Fungsi perbankan yang strategis tersebut didukung perkembangan pembangunan di Indonesia secara makro serta kebijaksanaan pemerintah dalam hal deregulasi dunia perbankan, mempercepat pertumbahan industri perbankan di Indonesia. Setelah Pakto 1988, perkembangan dunia perbankan menunjukkan peningkatan kuantitas yang drastis dilihat berdasarkan jumlah pertumbuhan bank baru atau cabang-cabang Bank lama. Sampai awal tahun 1993 tercatat sebanyak 217 buah Bank di Indonesia.

Situasi tersebut menyebabkan persaingan antar Bank cenderung semakin rneningkat. Kemampuan suatu Bank untuk menghadapi situasi tersebut memerlukan strategi yang tepat., terutama mengantisipasi perkembangan ekonomi atau moneter nasional, mengantisipasi potensi pasar suatu produk perbankan, efisiensi dan efektifitas operasional Bank dengan menggunakan prinsip kehati-hatian, serta daya dukung sumber daya manusia yang herkemauan dan berkemampuan dengan pengelolaan manajemen yang baik.

Sebagai lembaga yang profit oriented dengan tetap mematuhi aspek regulasi dari otoritas moneter (BI), fungsi perbankan setelah satu dasawarsa pakto 1988 menunjukkan peranan yang semakin penting. Kondisi dunia perbankan dewasa ini bisa dijadikan indikator atau instrumen yang digunakan untuk memantau perkembangan sektor ekonomi moneter. Hal tersebut terlihat dan strategi otoritas moneter dalam mengendalikan tingkat inflasi pada tahun 90-an dengan memanfaatkan peranan dunia perbankan, yaitu melalui kebijaksanaan moneter yang terkenal dengan Tight Money Policy. Padahai beberapa pihak menuduh pihak perbankan sebagai salah satu penyebab penigkatan inflasi yaitu pada saat booming Bank-bank baru melalui mekanisme demmand pull.

Peranan dunia perbankan tersebut memerlukan dukungan kernampuan sumber daya manusia serta pencarian alternatif penanganan operasional Bank yang semakin efektif dan efisien. Dewasa ini dunia perbankan cenderung memanfaatkan teknologi komputer dalam operasional perbankan sehari-hari yang dikenal dengan Sistem Aplikasi Perbankan.

Penerapan teknologi informasi di bidang perbankan tersebut diharapkan memberikan keunggulan komparatif untuk setiap Bank sehingga produk dan jasanya relatif kompetitif di pasar. Bahkan kemampuan Bank dalam penerapan teknologi informasi ini sering di-ekspose, misalnya kemampuan pengoperasian komputer yang terintegrasi (On Line system), Telebanking, atau penggunaan ATM (Automatic Teller Machine) yang semakin luas.

Sistem Aplikasi Perbankan

Pengertian sistem aplikasi perbankan adalah penggunaan komputer dan alat-alat pendukungnya dalam operasional perbankan yang meliputi pencatatan, penghitungan. peringkasan, penggolongan, dan pelaporan sernua kegiatan di bidang perbankan. Kegiatan tersebut bisa meliputi administrasi, akuntansi, manajemen, pemasaran, atau bidang lain yang mendukung kegiatan perbankan.

Proses komputerisasi pada kegiatan-kegiatan operasional perbankan tersebut selain dapat meningkatkan produktivitas, efisiensi dan efektivitas operasional perbankan dalam melayani costumer atau nasabah, juga memberikan data dan informasi yang akurat bagi manajemen perbankan sehingga dapat digunakan sebagai bahan dalam penyusunan strategi selanjutnya dengan tujuan dapat menjaga kestabilan kredibilitas dan likuiditas lembaga perbankan tersebut.

Sistem aplikasi komputer yang digunakan di bidang perbankan harus bisa mengakomodasikan semua kebutuhan bank dan sesuai dengan ketentuan dan otoritas moneter. Hal ini memerlukan pemilihan software komputer mengingat jenis software yang ditawarkan relatif cukup banyak. Secara umum pemilihan ini berdasarkan kesesuaian antara kapasitas Bank yang akan menggunakan Software dengan fasilitas atau kemampuan software yang dipilih sehingga investasi yang dilakukan benar-benar efektif dan memberikan nilai tambah yang relatif besar.

Sebagai contoh, Bank yang kapasitasnya relatif kecil, misalnya Bank Perkreditan Rakyat (BPR), kurang relevan bila menggunakan sistem aplikasi komputer yang menyediakan fasilitas transaksi dalam valuta asing atau pengelolaan rekening giro. Hal ini mengingat bahwa BPR tidak boleh melakukan transaksi dalam valuta asing atau ikut serta dalam lalu Iintas pembayaran giral melalui mekanisme kliring secara Iangsung. Penggunaan software komputer tersebut menjadi tidak efisien dan biaya investasinya Iebih besar dibandingkan dengan nilai tambah yang dihasilkannya.

Kriteria pemilihan software komputer yang baik sesuai dengan kebutuhan Bank secara umum berdasarkan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:


1. KEMAMPUAN DOKUMENTASI ATAU PENYIMPANAN DATA

Jenis dan klasifikasi data Bank yang relatif banyak harus bisa ditampung oleh software yang digunakan, termasuk pertimbangan segi keamanan datanya. Kemampuan dokumentasi ini sebanding dengan kapasitas kerja dan jumlah nasabah yang dilayani Bank. Jumlah data atau nasabah semakin banyak memerlukan memory komputer yang lebih besar untuk menampung Data Base-nya dengan tetap memperhatikan kecepatan proses pengolahan datanya. Sebagai contoh, Bank yang kapasitas kerjanya relatif kecil, rnisalnya hanya rnempunyai 1 kantor, dengan jumlah nasabah hanya ratusan orang, kurang tepat jika menggunakan program yang dijalankan pada mesin besar, misalnya AS 400.


2. KELUWESAN (FLEXIBILITY)

Operasional Bank selalu berkembang dengan kebutuhan yang berubah-ubah walaupun informasi dasarnya tetap sama. Kondisi ini harus bisa diantisipasi oleh software komputer sampai batas tertentu. Setiap Bank mempunyai sistem dan prosedur yang berbeda meskipun data atau informasi dasar yang diolahnya sama. Software komputer yang fleksibilitas tinggi dapat digunakan oleh dua buah bank yang kapasitasnya sama tetapi sistem dan prosedurnya berbeda.

3. SISTEM KEA MA NA N (SECURITY SYSTEM)

Sistem keamanan data merupakan faktor yang sangat penting di bidang perbankan mengingat fungsinya sebagai lembaga kepercayaan yang sebagian besar dana yang dikelolanya dimiliki masyarakat. Software komputer perbankan harus bisa mencegah pengaksesan data keuangan nasabab atau penyalahgunaan data keuangan oleh pemakai yang tidak bertanggung jawab. Secara teknis, hal tersebut umumnya diterjemahkan dalam bentuk penggunaan User Id dan password, fasilitas back up data, atau penggunaan sandi-sandi data bank yang digunakan pada sistem aplikasi.


4. KEMUDAHAN PENGOPERASIAN (USER FRIENDLY)

Pengertian mudah dioperasikan bukan berarti setiap pemakai (user) bisa mengakses ke software tersebut tetapi setiap petugas yang berwenang mudah mengoperasikan proses yang menjadi tanggung jawabnya. Tahap input, proses, dan output data pada software tersebut tidak menjadi penghambat dalam kegiatan perbankan secara keseLuruhan. Sistem aplikasi komputer yang baik bahkan dapat mendeteksi kesalahan pengoperasian (error message) dan memberikan petunjuk pemecahan masalahnya.


5. SISTEM PELAPORAN (REPORTING)

Data atau informasi yang dibutuhkan harus bisa disajikan dalam bentuk yang jelas dan mudah dimengerti. Bank memerlukan laporan-laporan yang lengkap dan jelas tersebut terutama dalam proses pemeriksaan (audit) atau penyajian laporan yang bisa dimengerti oleh pihak-pihak lain dengan harapan keuangan setiap Bank menjadi lebih transparan.


6. ASPEK PEMELIHARAAN (MAINTENANCE)

Kinerja software komputer diharapkan relatif stabil selama Bank beroperasi. Kondisi ini memerlukan aspek pemeliharaan yang baik, baik teknis peralatan maupun modifikasi/pengembangan software. Software perbankan harus mudah dipelihara misalnya penggantian suku cadang hardware yang cepat, perbaikan kinerja proses pengolahan data, serta kemudahan mendeteksi dan memperbaiki kesalahan program.


7. SOURCES CODE

Software yang digunakan dalam operasional perbankan biasanya merupakan program paket yang sudah di-compile (executed program). Program tersebut relatif tidak bisa diubah atau dimodifikasi seandainya pihak Bank menginginkan perubahan atau fasiitas tambahan dan software tersebut. Kondisi ini bisa diatasi jika pihak Bank mempunyai dan memahami software tersebut dalam bentuk bahasa pemrograman aslinya (source code/program). Pertimbangan modifikasi source program ini sangat penting untuk mengantisipasi kedinamisan sektor perbankan sehingga software komputer yang terpilih relatif bisa digunakan untuk jangka waktu yang lama tanpa membeli paket software baru.


SISTEM APLIKASI GENERAL LEDGER

Salah satu aplikasi komputer dalam kegiatan perbankan adalah sistem aplikasi General Ledger. Output dan sistem aplikasi ini yang terpenting dan dikenal masyarakat adalah laporan keuangan bank yang terdiri dan Neraca, Laporan RugiLaba, dan Laporan Rekening Adininistratif. Sistem aplikasi General Ledger sangat penting karena keluaran dan sistem ini bisa rnenggambarkan kemampuan Bank dalam menjalankan fungsinya sebagal penghimpun dan penyalur dana. Hal tersebut dimungkinkan melalui analisa data kuantitatif yang terdapat pada Laporan-laporan tersebut.

Sistem Aplikasi General Ledger ini bersifat integrated banking operasional system dengan memakai jaringan kerja komputer yang saling berhubungan untuk seluruh aplikasi kegiatan perbankan. Sistem ini dimungkinkan dengan pemanfaatan fasilitas Local Area Network atau Wide Area Network. Pengertian integrated tersebut meliputi kesatuan dalam seluruh kegiatan operasional perbankan, mulai dan proses pembukuan sampai dengan pelaporan keuangan bank serta penerapan sistem On Line antar bagian atau antar cabang.

Pada sistem aplikasi perbankan terintegrasi, sistem aplikasi General Ledger ini pada dasarnya merupakan sistem aplikasi induk yang mampu menampung hasil pengolahan data dan sistem aplikasi lain. misalnya sistem aplikasi tabungan tabungan, giro, pinjarnan, dan software lain yang basil pengolahan datanya akan mempengaruhi laporan keuangan Bank. Buku ini lebih banyak membahas penggunaan sistem aplikasi general ledger secara terpisah dengan sistern aplikasi yang lain (Non On line).

BAB 2 KOMPUTER DAN KRIMINALITAS



Tujuan Umum

Memberikan bekal kepada mahasiswa adanya peluang-peluang terjadinya kejahatan dibidang maya (Cibercrime), dan pelatihan diri untuk usaha-usaha menangkalnya.


Tujuan Khusus

Memperkenalkan kepada mahasiwa adanya aspek teknis dan non teknis pada kejahatan komputer yang tejadi dilapang.


Lingkup Bahasan

Kejahatan maya (cyber crime ), Hacker, Forensik bidang

komputer, Bukti digital.

Kejahatan maya, apakah internet merupakàn “Wild Wild West” baru (Mello, 2004)?. Jaman “Wild Wild West” di Amerika di masa lalu dikenal juga jaman “Cowboy” di mana disitu berlaku hukum rimba, siapa yang kuat, dan cekatan memenangkan


pistol adalah yang menjadi pemenang. Sherif dalam keadaan darurat dapat menjadi jaksa sekaligus eksekutor dalam suatu kasus pelanggaran hukum. pada masa itu alat teknologi pembunuh yang terkenal adalah pistol. Persellisihan diselesaikan dengar cara duel pistol, satu lawan satu adalah sah-sah saja. Orang kuat yang dapat mengatasi kejahatan diangkat sebagai “Sherif” , sebagai penegak hukum sekaligus bertindak sebagai hukum sendiri. Nampaknya pada masa itu hukum sendiri sebagai ilmu dan institusi perkembangannya kalah cepat dengan perkernbangan teknologi (senjata api), dengan segala resikonya.

Nampaknya pernyataan di atas tidak berIebihan di era komputerisasi dan internet sekarang, perkermbangan kecanggihan ilmu hukum kalah cepat dengan perkermbangan teknologi komputerisasi sendiri sehingga tidak mampu secara penuh rnengatasi kesemuaan dampak negatifnya.

Dalam suatu berita para “hacker” dapat menanam komputer di rumah anda menjadi suatu bom. Satu dari 5 anak menerima ajakan seksual atau. dengan pendekatan internet dalam suatu tahun periode waktu Data pribadi dari komputer pada universitas California telah dicuri pada tangga1 21 Oktober tahun 2004. Microsoft dan Cisno mengumunkan adanya suatu inisiatif untuk saling bekerja sarna untuk meningkatkan pengaman Internet pada 18 Oktober 2004.

Dalam bentuk baru hukum rimba “ Barat” terdapat Iebih banyak kejahatan maya dibandingkan dengan polisi di bidang maya. Para penjahat merasa “aman” melakukan kejahatan dari rumah-rumah mereka yang terjaga secara pribadi. Merupakan bentuk tantangan bagi penegak hukum yunior di bidang hukum di mana sebagian besar tidak diadakan pelatihan di bidang teknologi. Kejahatan Internet mempunyai berbagai jarak dengan pengadilan. Membutuhkan pengulangan kejahatan baru untuk memberadakan hukumnya.

Kejahatan komputer,

(1)Komputer dipergunakan untuk melakukan kejahatan dalam bentuk pencabunan anak-anak, ancaman berbentuk email, mengasumsikan identitas seseorang, godaan seksual, fiinah spam,

(2)Komputer sebagai target suatu kejahatan virus, worm, spionase industri, pembajakan software, hacking.


Foresik bidang komputer, bagaimana pergertiannya?

(1) Suatu autopsi bagi suatu komputer atau jejaing untuk mengungkap bukti secara digital dan suatu kejahatan.

(2) Bukti tersebut harus dapat dilindungi dan diajukan ke pengadilan secara hukum. Pengembangan di lapang, menjadikan bertambahnya pengertian dan forensik komputer bagi berbagai pihak seperti : kepolisian negara, dan lokal, keamanan tanah air, pengacara, jaksa dan hakim, agensi kea manan independen, “hacker” beretika atau “hacker” bertopi putih.

Menguak bukti digital. Para kriminal cerdik, sehingga jangan menggunakan komputer-komputer milik mereka heserta seluruh komponennya.

(1) Floppy disks

(2) Tapes

(3) Camera digital

(4) Memory sticks

(5) Printers

(6) Game boxes

(7) Networks

(8) Hard drives

(9) etc.

Bukti digital. Tidak jelas, pada kebanyakan terselubung atau penggaliar yang dilakukan oleh pakar forensic.Kriminal dengan bukti tersembunyi:hapus file dan email mereka.

Kamis, 23 September 2010

PENDAHULUAN

BAB 1 PEDAHULUAN

Tujuan Umum

Memberi bekal pada mahasiswa sebelum terjun ke masyarakat dalam menghadapi aspek sosial dan profesional dalam bidang teknologi informasi

Tujuan Khusus

Memperkenalkan mahasiwa pada aspek teknis dan non-teknis dan dunia Teknologi Informasi yang sebenarnya.

Lingkup Bahasan

Aspek sosial, kewajiban etis dan profesional, resiko dan sistem berbasis komputer, etika profesi, hak asasi dan privacy, kekayaan intelektual, kejahatan komputer aplikasi komputer di berbagai bidang.

Mobilitas orang dalam era globalisasi sangat tinggi sehingga

ketergantungan dan keterkaitan akan informasi menjadi kebutuhan yang tidak kalah pentingnya dengan kebutuhan primer Informasi menjadi komoditi yang dapat diperdagangkan dan diperebutkan. Mudah diakses dan cepat adalah kuncinya. (Intisari, 1997).

Diera globalisasi ini ,unsur pembelajaran afektif merupakan tulang punggung pembelajaran, mendominasi unsur koqnitif maupun psikomotorik, mengapa?pada proses “Elearning” unsur kepribadian, kemandirian, etika, integritas dan nasionalisme merupakan filter yang sangat diperlukan untuk menyaring unsur-unsur negatif pada “E-leaning”. E-learning disamping sifat positifnya dapat membawa ke pemahaman keilmuan dengan cara sangat cepat juga dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab untuk merusak moral dan mentalitas kepribadian suatu bangsa.

Pada masa kini (tahun 2005) sudah rnerupakan rahasia umum lagi bahwa biaya sekolah semakin mahal, apalagi biaya sekolah di bidang teknologi infornmasi (IT) berdasarkan kenyataan ini nantinya masyarakat Indonesia akan terpecah menjadi dua golongan, sebagian kecil karena finansialnya cukup kuat maka kemampuan untuk menguasai teknologi informasi (IT) akan semakin maju dengan pesat, dan sebagian besar golongan masyarakat dalam bidang teknologi informasi akan semakin ketinggalan dengan pesat pula kesenjangan(jurang pemisah)yang semakin lebaar ini kalau tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan benturan peradaban (the clash of civilization), yang sangat mengerikan.

Golongan masyarakat yang terbelakang ini jikalau menemui masalah dan tidak mengetahui cara pemecahannya akan mudah emosi dan marah, dan mempunyai potensi untuk membuat kerusakan.

Pada saat terjadi krisis moneter di indonesi banyak sekali bank-bank dimerger atau terpaksa ditutup. Mantan karyawan bank yang ter PHK jika mempunyai intergritas tinggi akan beralih ke usaha lain dengan perbekalan uang pesangon yang mereka terima. Bagi mereka yang tidak mempunyai cukup integritas tunggi dapat saja memperoleh godaan untuk mengadakan pembobolan bank dengan menggunakan password, karena mereka mempunyai ketrampilan di bidang tersebut.

Kesenjangan teknologi terhadap pengetahuan informaasi :

1 antar bangsa

2 di dalam negara

Pemecahan menjadi bagian-bagian secara digital meningkatkan kesenjangan ekonomi /sosial antara negara industri dang negara-negara berkembang tahun 1960 (booming ekonomi) posisi soasial/ekonomi pda 20 negaara terkaya menjadi 30kali lebih besar di bandingkan dengan 20 negara termiskin. Tahun 2000(booming masyarkat informasi) posisi ini menjadi 44 kali lebih besar.

Akses internet 90% terkonsentrasi di negara industri (25% dari populasi global) lebih dari 55% di USA dan kanada pengguanaan internet di afrika dan timur tengah hanya sebesar 1% negara-negara berkembang menggunakan ”provider” hanya 5% di argentina malaysia dan afrika selatan.untuk negara berkembang masih ada kemungkinan untuk mengakses informasi secara khusus, untuk informasi medis dan untuk memiliki prosedur ”teleconsuliting telediagnosis”untuk membantu dan menyelamatkan banyak pasien.

Telemedicine mempunyai potensi ditawarkan pada negara berkembang baik untuk perbaikan kualitas maupun kuantitas. Hal ini termasuk

(1) Konsultasi jarak jauh, diagnosis dan saran perlakuan oleh spesialis pengobatan

(2) Pendidikan dan pelatihan. Staf pelayanan kesehatan di pedesaan dan pedalaman secara regular dapat rnengakses pada pelajaran yang diberikan oleh para spesialis di rumah sakit (seperti manajemen secara umum dan penyakit-penyakit khusus

(3) dapat rnengakses pada “databases’’ medis internasional

(4). Meningkatkan efektifitas dan efisieni, sebagai control dalam hal mengurangi waktu tunggu untuk berkonsultasi, dan dalam hal pengenaan Sistem-sistem infomasi medis

(5) Jejaring pelayanan kesehatan dan tele medicine fasilitas perlengkapan informasi medis didistribusikan ke kesehatan distrik dan pusat-pusat klinik dan kesemuannya bermanfaat untuk negara berkembang.Untuk mendukung telemedicine dan peIayanan kesehatan secara kualitatif dan kuantitatif pada negara berkembang (menyelamatkan jutaan orang)tentunya dibutuhkan

(1) Mengembangkan infrastruktur telekomunikasi

(2) Meningkatkan jumlah komputer rumah.

Menurut jogiyanto (1992) meramalkan perkembangan teknologi dengan tepat untuk masa depan memang sulit.hal yang tadinya dirasakan tidak mungkin kemungkinan menjadi mungkin. Sebagai contoh komputer generasi keempat akan mengalami perkembangan-perkembangan luar biasa yang dahulunya tidak terpikirkan. Suatu peramalan yang Sifanya fiksi meramalkan bahwa komputer masa depan akan dapat berpikir dan mempunyai perasaan seperti manusia komputer beberapa ilmuwan komputer yakin, suatu ketika akan diketemukan suatu komponen yang disebut sebagai biochip, yang terbuat dari bahan protein sintesis. Apakah tidak mungkin robot yang dibuat dari bahan ini akan rnenyerupai manusia tiruan ? komputer masa depan diramalkan akan lebih menakjubkan.

Sistem komputer memputnyai elemen terdiri dari hardware, software, dan brainware (manusia). Di Indonesia pengembangan software dan brainware maju dengan pesat akan tetapi kemampuan dan ketrampilan untuk membuta hardware di dalam negeri terabaikan. bagaimana jika suatu saat teradi tindakan embargo hardware dari negara-negara maju karena suatu sebab, atau nilai rupiah kita menjadikan dolar tidak terkejar lagi?. Sudah siapkah kita rnenghadapinya ?